Jumat, 11 Desember 2015

THE REAL OF THE REAL FIGHTER

THE REAL OF THE REAL FIGHTER

*Sebuah refleksi diri

Ba'da subuh tadi saya sedikit memberi nasehat dgn nada tinggi ke kelas X. Salah satunya adalah soal "fighter" sejati. Fighter dari bahasa Inggris yg berarti petarung.

Pemilihan kata ini bukan tanpa alasan. Sejak awal tahun pelajaran, saya memang melihat banyak bermunculan pendekar dan petarung. Tentunya, ini adalah langkah yg perlu diapresiasi dan terus dipupuk. Agar kekuatan Islam yg bertumpu pada setiap pemuda tetap eksis.

Hal ini juga tentu segendang sepenarian dan seiring senada dgn sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam yg mengatakan bahwa Allah mencintai mukmin yg kuat.

Menariknya, para petarung ini bermunculan dari berbagai aliran. Ahad pagi kemarin, saya lihat beberapa taekwondo-in berlatih hingga bermandi peluh. Beberapa hari lalu, beberapa santri pendekar tapak suci izin latihan gabungan di sekolah sebelah. Lebih jauh ke belakang, saya juga pernah melihat banyak karate-ka berlatih hingga dari petang hingga malam menjelang.

Dalam sebuah foto yg dirilis salah satu pendekar tersebut, saya lihat bagaimana dia memberi twieo dwi chagi tepat bagian dada lawan. Tendangan twieo dwi itu bukan sembarang tendangan. Semua kekuatan bertumpu pada kaki yg menjadi senjata serangan. Dilakukan dgn sedikit teknik terbang. Kalau lawan lengah, fatal akibatnya. Dalam pandangan sbg seorang mantan taekwondoin, lenampilan itu gagah dan hebat sekali. Terlihat sbg lelaki sejati.

Tetapi, sayang sekali. Sangat amat disesalkan. Penampilan hebat itu ternyata tak berbanding lurus dgn praktek spiritual yg seharusnya dibangun lebih awal. Bukan hanya yg empunya foto saja yg demikian. Hampir semua pendekar itu, juga demikian adanya.

Tampil hebat saat latihan, tapi lemah syahwat di urusan ibadah. Tampil garang di depan lawan, tapi tak mampu melawan nafsu tuk penuhi adzan. Mudah melakukan tendangan terbang, tapi tak kuasa mengangkat kaki menuju masjid. Padahal, alasannya cuma sepele; capek habis latihan dan tanding. Allahul musta'an...

Point inilah yg menjadi pemicu meledaknya "marah" itu subuh tadi. Saya katakan, bahwa shalat jamaah adalah kewajiban lelaki yg mukallaf. Dan "hanya" perempuanlah yg diberi uzur shalat di rumah. Terlepas dari khilafiyah dalam masalah ini, aturan pondok telah memewajibkan hal itu.

Maka, saya tekankan kpd mereka, sesungguhnya petarung sejati adalah yg mampu memimpin nafsunya. Bukan org yg dikalahkan nafsu lelahnya dan nafsu malasnya. Petarung sejati adalah org yg mampu membawa lelahnya tetap ke masjid. Yg seperti inilah the real fighter.

Subuh itu, si empu foto yg menjadi pemicu ledakan itu kebetulan gk ada di masjid. Padahal beberapa menit sebelum waktu subuh sudah saya bangunkan dgn sprayer. Kelak di pagi harinya diketahui kalau dia ketiduran hingga tak sempat ke masjid subuhan.

Sore ini, ketika halaqoh quran telah dibubarkan, pendekar taekwondo itu datang menghampiri saya. Saya pikir ada sesuatu yg akan ditanyakan terkait materi tajwid yg baru diajarkan. Tapi salah. Ternyata dia menghadap ingin meminta maaf. Meminta maaf atas kesalahannya yg sering ketiduran di waktu subuh. Menyesali diri telah dikalahkan nafsu ngantuknya. Mengakui dirinya salah telah dikibuli nafsu malasnya.

Maka, saya katakan, sebenarnya inilah petarung sejati. Saya katakan itu dalam hati. Sejatinya, dialah sebenar-benar petarung sejati; org yg berani mengakui kesalahan dan kekurangan diri disertai azzam untuk perbaikan hati dan perlawanan terhadap nafsu syaithoni.

Mendapat pengakuan penyesalan seperti itu, hati saya lalu terenyuh. Meleleh, layaknya timah yg dipanaskan. Aduhai, gemuruh dada ini terlalu menderu. Tak ingin terlihat "melemah" di depan "lawan", pendekar itu langsung saya suruh pergi. Tentu setelah permintaan maafnya diterima. Ada secercah harap, semoga yang lain juga benar-benar menjadi petarung sejati; the real of the real fighter.

Asrama Darussyahadah, ba'da maghrib, Senin, 7 Desember 2015

0 komentar:

Posting Komentar