This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Aqidah Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah Akhlak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Januari 2016

SIFAT-SIFAT YANG DENGANNYA SEORANG MUSLIM BERHAK DIKATAKAN SEBAGAI SALAFI

SIFAT-SIFAT YANG DENGANNYA SEORANG MUSLIM BERHAK DIKATAKAN SEBAGAI SALAFI

1. Berhukum dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam semua sisi kehidupannya.

2. Berpegang pada penjelasan dari para Sahabat tentang setiap permasalahan agama secara umum dan lebih khusus lagi mengambil penjelasan mereka dalam masalah 'aqidah dan manhaj (jalan atau metode dalam beragama).

3. Tidak memperdalam masalah yang tidak dapat dinalar oleh akal.

4. Memperhatikan Tauhid Uluhiyah.

5. Tidak berdebat dan tidak bermajelis dengan Ahlul Bid'ah, tidak mendengarkan perkataan-perkataan mereka, dan tidak menyampaikan syubhat-syubhat mereka, ini adalah jalan para Salafush Shalih.

6. Bersemangat dan bersungguh- sungguh menyatukan jama'ah dan kalimat kaum muslimin di atas Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf.

7. Menghidupkan Sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam ibadah, akhlak, dan semua sisi kehidupan sehingga mereka menjadi orang-orang yang terasing di tengah-tengah kaumnya.

8. Tidak fanatik melainkan kepada firman Allah dan Sabda Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa Sallam yang tidak berkata dari hawa nafsunya.

9. Melakukan amar ma'ruf nahi munkar.

10. Membantah setiap orang yang menyelisihi manhaj Salaf, baik muslim maupun kafir, setinggi dan serendah apapun kedudukannya, baik menyelisihinya itu dengan sengaja maupun karena kesalahan, dan hal itu tidak tidak termasuk menjelekkan dan menganggap rendah, tetapi termasuk nasihat dan kasih sayang terhadap orang yang dibantah.

11. Membedakan antara kesalahan yang berasal dari ulama-ulama Islam yang mendasari dakwahnya yang dimulai di atas Manhaj Ahlus Sunnah sehingga kesalahannya itu termasuk dalam ijtihad yang diberikan satu ganjaran sedang kesalahannya ditolak dan antara kesalahan-kesalahan para da'i penyeru bid'ah dari orang-orang yang mendasari dakwah mereka yang tidak dimulai dari manhaj Ahlus Sunnah sehingga kesalahan mereka terhitung sebagai perbuatan bid'ah.

12. Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan cara mentaati orang yang telah dijadikan Allah Ta'ala sebagai ulil amri (pemimpin) bagi kita, tidak memberontak kepada mereka, mendo'akan mereka dengan kebaikan dan keselamatan, dengan tetap menasihatinya secara jujur.

13. Hikmah dalam berdakwah hanya mengajak kepada jalan Allah Ta'ala.

14. Memberikan perhatian yang besar terhadap ilmu yang bersumber dari Al-Qur'an,  As-Sunnah, dan atsar Salaful Ummah serta mengamalkannya, dan meyakini bahwa umat ini tidak akan  menjadi baik kecuali jika mereka memperhatikan ilmu dan amal shalih.

15. Bersemangat melakukan tashfiyah (pemurnian) dalam setiap bidang agama dan Tarbiyah (mendidik) generasi di atas ajaran yang telah dibersihkan tersebut.

✒ Al-Ustâdz Yazid bin Abdul Qadir Jawas Hafizhahullâh
📝 Buku Mulia dengan Manhaj Salaf (Bab 7)

♻Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi
📁Grup WA & TG Dakwah Islam
📩TG Bot : @DakwahIslam_Bot
🌐TG Channel : @DakwahIslam

Share yuk semoga saudara anda mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Minggu, 03 Januari 2016

Mendidik anak usia dini balita agar cerdas pintar dan soleh

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.             بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْــــــم.          cara mendidik anak usia dini balita agar cerdas pintar dan soleh

Anak adalah anugerah titipan tuhan yang diberikan kepada kita selaku orang tua, diibaratkan sebuah kertas polos putih bersih tanpa noda akan diisi tinta warna apa kertas itu ? tinta hitam, tinta biru ,tinta merah atau tinta emas terserah kita yang akan menggunakannya, begitu pula dengan anak tergantung cara orangtua mendidik anaknya. 

Mendidik anak saat usia dini sangat penting  untuk masa depan anak dalam membangun pribadi dengan budi pekerti yang luhur, cerdas, pintar dan memiliki akhlak yang soleh / solehah.
Anak sebagai generasi penerus silsilah keturunan keluarga yang menjadi pewaris seluruh harta kekayaan dari kedua orangtuanya. cara mendidik anak saat usia dini atau balita yang salah akan  menjerumuskan kedua orang tuanya baik di dunia maupun diakhirat. 

Cara mendidik anak kecil mulai balita hingga dewasa menjadi anak berbakti, soleh dan solehah bukan hal yang mudah , diperlukan sikap setia, kasih sayang, kesetiaan dalam membesarkan anak agar kelak menjadi generasi penerus yang bermanfaat bagi dirinya dan terlebih bangsa dan negara.

Bagaimana cara mendidik anak secara islami  saat usia dini atau balita agar cerdas, pintar dan soleh.
 
Berikut  ini tips cara mendidik anak saat usia dini atau balita ;

1.Utamakan pendidikan agama yang kuat

Agama adalah pondasi dalam membentuk akhlak yang soleh, perilaku dan tabiat yang mencerminkan sosok pribadi yang baik. mendidik anak dengan pendidikan agama merupakan langkah awal untuk menjadikan anak yang soleh / solehah

2. Pahami sifat dan karakter anak

Orangtua yang baik berusaha memahami karakter anaknya. Ada anak yang sejak awal menunjukan karakter pemalu, periang. Introvert, extrovert atau penuh percaya diri.
 Sebaiknya perlakukan mereka sesuai dengan karakternya, dan jangan memaksakan anak untuk menjalani karakter lain. Atau memaksanya melakukan sesuatu yang dia belum merasa siap.

3. Hargai perilaku anak

Menghargai setiap perilaku baik anak sebanyak-banyaknya dan usahakan untk menghukumnya sesedikit mungkin. Jika anak melakukan kesalahan, jangan langsung dimarahi. Tapi gali alasan dia melakukannya, serta ajak dia berpikir apakah itu baik atau tidak. Bersikaplah tenang, karena pada dasarnya setiap perilaku anak adalah proses menemukan jatidiri atau identitas dirinya. Dengan cara ini, anak mengerti dan anda bebas stress. Anak usia satu sampai dua tahun adalah usia yang segala perilakunya msaih bersifat eksplorasi. Maka berikanlah kesempatan itu, karena ini sangat bermanfaat untuk perkembangan otaknya.

4. Ajak anak berbicara dalam diskusi

Ingin anak yang pemberani dan punya sifat memimpin ? libatkan dalam diskusi keluarga, dengarkan dan hargai pendapatnya. Lakukan itu sejak dia kecil, agar ingatan itu tertancap di memorinya. Diskusikan banyak hal dengannya mulai dari memilih makanan, baju, berwisata ke mana, sampai sekolahnya sendiri. Hal ini penting untuk membentuk rasa percaya dirinya. Dengan kebiasaan ini, anak juga akan terbiasa dengan penyelesaian masalah secara demokratis.

5. manfaatkan momen bersama anak

Jika anda adalah orangtua bekerja, maka pintar-pintarlah mempergunakan kesempatan terbatas untuk berkomunikasi dengan anak anda seefektif mungkin. Sambil bercanda, usahakan mendapatkan pembicaaan yang ‘berisi’. Misalnya, ajaklah anak mengobrol dengan santai tentang berbagai hal ketika anda mengantar dia ke sekolah. Gunakan juga kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai positif ketika anda menemani dia menonton televise. Mengajak diskusi selalu bisa diawali dengan pertanyaan-pertanyaan yang unik danmungkin bikin dia geli. Missal.”

6. sediakan waktu bersama anak

Meluangkan waktu khusus untuk berdua dengan anak merupakan hal yang penting untuk menumbuhkan ikatan batin antara anda dan anak. Manfaatkan kesempatan berdua untuk memahami dan mendekatkan diri dengan anak. Anda bisa memanfaatkan waktu tersebut mulai dari saat membangunkan atau mengantarkannya tidur, bermain bersama, menonton televisi bersama, pergi bersama ke tempat-tempat menarik, dan banyak lagi.

7. Ajarkan anak untuk bersikap disiplin
Jika anak sedari kecil dibiasakan untuk disiplin, maka dia akan menjadi pribadi yang teratur setelah dewasa. Terapkan mulai dari hal-hal yang kecil. gosok gigi, cuci kaki, merapikan tempat tidur setelah bangun pagi, sangat baik untuk membiasakan hidup mereka lebih teratur setelah dewasa. Terapkan disiplin secara konsisten. Jika anak melalaikannya, tidak ada salahnya anda memberikan sangsi.

8. Berilah contoh tauladan yang baik 

Anak adalah peniru ulung, maka berhati-hatilah dalam bertingkah laku dan menjalankan kebiasaan.
Anak usia emas (0-5 Tahun) memiliki daya ingat yang sangat kuat, jadi apapun yang anda lakukan bisa menjadi modalnya dalam berprilaku di saat dewasa.
Dia belajar berprilaku melalui pengamatannya pada perilaku orang tuanya.
Maka berperilakulah yang baik dan hindarkan kata-kata kotor, karena apa yang kita ucapkan dan kita lakukan merupakan modal bagi anak kita dalam berperilaku dan berucap.

9. Komunikasi yang baik terhadap anak

Komunikasikan dengan jelas dan lembut. Ketika anda memberikan perintah kepada anak.
Berikan perintah yang spesifik dengan kalimat yang jelas untuk menghindari kebingungannya.

10. Sabar dan tahan amarah juga emosi kepada anak

Perilaku anak kadang membuat orangtua kesal dan jengkel. Sebagai orang tua harus bersikap sabar dihadapan anak,  jangan sampai  anak menjadi objek omelan, luapan emosi atau bahkan sampai membuat kita tak menghiraukan dan memperhatikannya.

Sabtu, 02 Januari 2016

Bahaya Laten 'Mengikuti Hawa Nafsu'

Bahaya Laten 'Mengikuti Hawa Nafsu'

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Wajib bagi seorang insan untuk berhati-hati dari hawa nafsunya.

Karena sering didapati ketika seseorang telah selamat dari penyembahan kepada patung-patung, pepohonan, bebatuan dan kuburan.

Dia juga telah mengetahui tauhid dan mengenal sunnah.

Akan tetapi ternyata dia tidak selamat dari mengikuti hawa nafsu yang semestinya dia jadikan hawa nafsunya tersebut selaras dengan apa-apa yang datang dari rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

(Syarah Syarhus Sunnah-Syaikh Fauzan, hal. 22-23, cet. Maktabah Hadyi Muhammadi 2013).
➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama Wa SFS, INdiC dan INONG terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr

#hawa_nafsu

Tanda Pemuda Idaman

Tanda Pemuda Idaman

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "Di antara tujuh orang yang mendapat naungan Allah di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, adalah sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kabarkan, "... Seorang pemuda yang (mengisi) kehidupannya di dalam peribadahan kepada Allah."
[HR. Bukhari dan Muslim].

Yaitu jika pemuda tersebut hidup di atas peribadahan kepada Allah dan tidak berbuat sebagaimana keumuman para pemuda lainnya, keinginannya tidak tertuju kepada perkara maksiat, akan tetapi kebanyakan dari kehidupan dan keinginannya diisi dengan ketaatan kepada Allah..."

(Taujihatun Muhimmatun lis Syabab-Syaikh Shalih Fauzan, hal. 13-14, Dar Imam Ahmad 2005).
➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama Wa SFS, INdiC dan INONG terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr

#pemuda

Menjilat Piring

Menjilat Piring

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata, "... Demikian juga tentang menjilat piring, telah datang juga perintah syariat untuk menjilat piring (lihat Shahih Muslim no 2035).

Janganlah meninggalkan di piring sesuatu apapun dari sisa makanan, karena makanan tersebut nanti akan rusak (basi) atau nanti akan dibuang di tempat sampah.

Maka perkara ini (menjilat piring) adalah termasuk dari bagian memuliakan makanan.

Bahkan jika terdapat makanan tercecer yang berasal dari jatuhan suapannya, maka nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengambil ceceran makanan tersebut, kemudian dibersihkan jika terdapat kotoran, lalu hendaknya dia memakannya dan jangan tinggalkan makanan tesebut untuk setan (lihat Shahih Muslim no 2034).

Semua perbuatan ini adalah suatu bentuk memuliakan makanan dan mensyukuri nikmat, tidak meremehkan kenikmatan yang ada."

(Tas-hilul Ilmam-Syaikh Shalih Fauzan, jil. 6, hal. 164).
➖➖➖
🌀 Wa Ikhwan Ngaji di Cileungsi (INdiC)
➖➖➖
💾 Arsip lama Wa SFS, INdiC dan INONG terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr

#adab_makan

Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik

Fudhail ibn Iyadh rahimahullahu berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik.
   Ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Imam An Nawawi menjelaskan, "Makna ucapan beliau rahimahullahu ta'ala adalah barang siapa yang sudah bertekad untuk beribadah tapi kemudian meninggalkannya karena takut dilihat manusia maka ini adalah riya, karena dia telah meninggalkan amal karena sebab manusia.

Adapun kalau meninggalkannya karena ingin melakukannya di dalam keadaan khalwah (ketika nanti di tempat yang sepi) maka ini perkara yang mustahab (disukai).

Tapi perkara ini dikecualikan pada amalan yang fardhu (wajib) atau pada zakat yang wajib.

Dikecualikan juga pada keadaan seorang alim yang dijadikan panutan, kalo seperti ini maka menampakkan ibadah itu lebih afdhal (utama)."

(Diterjemah bebas dari Syarah Al Arbaun Nawawiyyah-Imam Nawawi, hal. 16, cet. Darul Mustaqbal 2005).
➖➖➖
💐 Wa Sedikit Faidah Saja (SFS)
➖➖➖
💾 Arsip lama Wa SFS, INdiC dan INONG terkumpul di catatankajianku.blogspot.com dan di link telegram http://bit.ly/1OMF2xr

#niat_ikhlash

Engkaulah Penyejuk Mataku

Engkaulah Penyejuk Mataku

—------------------------------

Islam itu sumber kebahagiaan. Setiap syariatnya membentuk ketenangan dan kebahagiaan. Kebahagiaan dunia dan akhirat. Kebahagiaan seringkali muncul dari orang-orang terdekat kita sehingga tanpa keliling duniapun kita sudah merasa sejuk dan bahagia.

Coba amati perasaan hati ketika kita melihat anak kecil yang masih imut-imut belajar mengaji dengan muka penuh semangat. Tatkala si gadis kecil sedang belajar memakai jilbab dan enggan bila jilbabnya dilepas. Si dedek kecil bermain sambil melantunkan hafalan Qurannya. Sang istri yang shalihah, bekerja seharian mengurus pekerjaan rumah tangga, namun tatkala suaminya datang ia berubah bak bidadari mencoba menutupi rasa lelahnya sambil tersenyum manis  dihadapan suami. Jujur, melihat mereka semua hati kita menjadi bahagia, menyejukkan lagi mententramkan.

asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
“Qurratul ‘Ain (Penyejuk Mata), yaitu kamu MELIHAT putra putrimu berakhlaq dengan amal-amal shalih. …

Firman Allah Ta’ala, “(Wahai Rabb kami karuniakanlah kepada kami isteri dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami sebagai pimpinan orang-orang yang bertaqwa.)”

Yakni keturunan yang bisa menyejukkan mata, karena kondisi mereka sebagai ANAK-ANAK yang MENTAATI ALLAH dan ISTIQAMAH di atas SYARI’AT-NYA. Demikian pula suami-isteri. Seorang suami apabila melihat isterinya di atas ketaatan kepada Allah, maka itu menyejukkan matanya. Juga, seorang isteri mukminah apabila melihat suaminya di atas ketaatan kepada Allah, maka itu menyejukkan matanya. Suami yang yang shalih adalah qurratu ‘ain bagi isterinya. Isteri shalihah adalah qurratu ‘ain bagi suaminya yang mukmin. Anak-anak yang shalih adalah qurratu ‘ain bagi ayah dan ibu mereka, serta karib kerabatnya yang mukminin dan mukminat.

Kitab Akhlaq al-Mu’minin wa al-Mu’minat, hal. 6

Semoga dengan tulisan singkat ini menyadarkan kita bahwa sumber kebahagiaan bukanlah harta ataupun kedudukan, melainkan lapangnya hati untuk menjalankan syariat-Nya. Sungguh mengagumkan wal hamdulillah.

Referensi : Manhajul anbiya' disertai penambahan seperlunya.

http://www.happyislam.com/2015/03/engkaulah-penyejuk-mataku.html

Jumat, 01 Januari 2016

🍓|Zina ADALAH HUTANG|✿

|🍓|Zina ADALAH HUTANG|✿

|📚|Berkata Imam As-Syafii,

عفوا تعف نساءكم في المحْرَمِ |وتجنبـوا مـا لايليق بمسلـم

إن الزنـا دين إذا أقرضــته| كان الوفا من أهل بيتك فاعلم

من يزنِ في قوم بألفي درهم | في أهله يُـزنى بربـع الدرهم

من يزنِ يُزنَ به ولو بجـداره | إن كنت يا هذا لبيباً فـافهـم

ياهاتكا حُـرَمَ الرجال وتابعـا| طرق الفسـاد عشت غيرَ مكرم

لو كنت حُراً من سلالة ماجـدٍ| ما كنت هتـّـاكاً لحرمة مسلمِ

|➥|Maaf, jaga kehormatan para wanita yang menjadi mahram kalian Hindari segala yang tidak layak dilakukan seorang muslim

|📙Sesungguhnya zina adalah utang. Jika kamu sampai berani berutang Tebusannya ada pada anggota keluargamu, pahami

|💑|Siapa yang berzina dengan wanita lain dan membayar 2000 dirham 
bisa jadi di keluarganya akan dizinai dengan harga ¼ dirham

|🍏|Siapa yang berzina akan dibalas dizinai, meskipun dengan tebusan tembok

|🔰jika anda orang cerdas, pahamilah hal ini

📘|Wahai mereka yang merampas kehormatan keluarga seorang dan menyusuri jalan maksiat. Anda hidup tanpa dimuliakan

|📗Jika anda benar-benar bebas dari belenggu pengikat

📕|tak selayaknya engkau mencabik kehormatan seorang muslim
hindarilah segala yang tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang muslim

|🍯|Zina adalah hutang

|📋|Jika engkau berhutang, maka ketahuilah bahwa tebusannya adalah anggota keluargamu

|✿|Allahﷻ berfirman

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

❝Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.❞ (Al-Israa’: 32)

|📖ingat ingat|

🍃|"Ibu mu, istri mu, anak perempuan mu, saudari perempuan mu, bibi mu, dan semua wanita yang menjadi kerabat mu, adalah kehormatan bagi mu

|📓Jika salah satu diantara mereka berzina, sejatinya telah menodai kehormatan mu

🍯|Karena zina adalah hutang dan tebusan nya keluarga tercinta

SUNGGUH MENGERIKAN✍

🍉|Semoga menyadarkan kita

|💑Share
|🍯Pin 7D604C23
|🍦Wa 082158038000 info islam & nasehat

Kamis, 31 Desember 2015

💥 AKIBAT DOSA DAN MENELANTARKAN AGAMA ALLAH 💥

💥 AKIBAT DOSA DAN MENELANTARKAN AGAMA ALLAH 💥

Ibnul Jauzy rahimahullah berkata:

المعاصي تسد أبواب الرزق وأن من ضيع أمر الله ضيعه الله.

"Kemaksiatan itu akan menutup pintu-pintu rizqi, dan siapa saja yang menelantarkan urusan Allah, pasti Allah akan menelantarkannya."

📚 Shaidul Khaathir, hal. 544, sebagaimana disebutkan dalam al-Ilmu wal Amal, karya asy-Syaikh Dr. Muhammad Sa'id Ruslan, hal. 89.

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏯ Channel Telegram : http://bit.ly/ForumSalafy

〰〰〰〰〰〰〰〰

💥📢🔥🌙 TINGGALKAN SECEPATNYA ORANG YANG SUKA DEBAT

💥📢🔥🌙 TINGGALKAN SECEPATNYA ORANG YANG SUKA DEBAT

✒📂 Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah

✋ Ini adalah termasuk perkara yang paling penting, yaitu hendaknya seseorang berada di atas jalan Salaf yang shalih pada semua bab-bab agama yaitu tauhid, ibadah, muamalah, dan selainnya. Demikian juga hendaknya dia meninggalkan perdebatan dan berbantah-bantahan, karena perdebatan dan berbantah-bantahan adalah pintu yang akan menutupi jalan kebenaran. Jadi perdebatan dan berbantah-bantahan akan menyeret seseorang untuk berbicara hanya karena ingin membela dirinya saja. Bahkan walaupun kebenaran telah jelas baginya, engkau akan menjumpai orang yang suka berdebat akan tetap mengingkarinya, atau dia akan menta’wil atau menyimpangkan maknanya dengan cara-cara yang dibenci demi membela dirinya dan untuk memaksa orang yang tidak sependapat dengannya agar menerima ucapannya.

💡 Jadi jika engkau menjumpai pada diri saudaramu mendebat dan membantah secara membabi buta ketika kebenaran telah jelas, maka hendaknya engkau lari darinya sebagaimana engkau lari dari singa. Maksudnya kebenaran telah jelas, tetapi dia tidak mau mengikutinya. Maka ketika itu hendaknya engkau lari darinya sebagaimana engkau lari dari singa, dan katakan kepadanya: “Cukup sampai di sini!” Dan tinggalkan dia!

📚 Sumber artikel:
http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=148507

⚪️ WhatsApp Salafy Indonesia
⏯ Channel Telegram : http://bit.ly/ForumSalafy

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Selasa, 22 Desember 2015

DI ANTARA ADAB SAFAR

DI ANTARA ADAB SAFAR

 

Musim liburan bagi sebagian kita merupakan kesempatan untuk safar atau bepergian. Maka itu, penting bagi kita untuk mengulang kembali beberapa adab seputar safar. Sebelum pergi, mari kita perhatikan dengan seksama beberapa poin ini. Semoga bermanfaat. Baarokallahu fiikum.

◇ 1. Niat yang baik.
◇ 2. Tidak safar dengan tujuan bermaksiat.
◇ 3. Istikharah kepada Allah.
◇ 4. Bermusyawarah terlebih dahulu bila memang diperlukan.
◇ 5. Menyelesaikan tanggungan yang ada.
◇ 6. Wanita tidak safar tanpa ditemani mahramnya.
◇ 7. Meminta izin kepada kedua orang tua.
◇ 8. Berwasiat kepada keluarganya.
◇ 9. Menentukan wakil dirinya bagi keluarga yang ditinggalkan.
◇ 10. Menyisihkan nafkah untuk mereka.
◇ 11. Berbekal dengan harta halal.
◇ 12. Membawa bekal harta secukupnya.
◇ 13. Jika memiliki istri dua atau lebih, hendaknya ia mengundi siapa dari mereka yang akan menemaninya safar.
◇ 14. Memilih teman safar yang baik.
◇ 15. Hendaknya diusahakan safar minimal bertiga.
◇ 16. Berpamitan kepada keluarga dan kerabat.
◇ 17. Menunjuk seorang untuk menjadi amir (pemimpin) safar.
◇ 18. Senantiasa taat kepada amir safar.
◇ 19. Bermusyawarah dengan amir safar demi kemaslahatan bersama.
◇ 20. Hendaknya amir safar bersikap lemah lembut kepada para musafir (orang yang safar) bersamanya.
◇ 21. Disunnahkan safar pada hari kamis.
◇ 22. Bersegera keluar safar pada pagi hari.
◇ 23. Memilih sarana transportasi yang tepat.
◇ 24. Membaca zikir ketika keluar rumah.
◇ 25. Membaca zikir ketika berkendara.
◇ 26. Membaca doa safar.
◇ 27. Bertakbir ketika jalanan meninggi dan bertasbih di jalanan menurun.
◇ 28. Saling tolong-menolong di antara para musafir.
◇ 29. Beristirahat di tengah perjalanan.
◇ 30. Membaca doa ketika singgah di suatu tempat.
◇ 31. Tidak memisah dari rombongan ketika beristirahat.
◇ 32. Tidak singgah di jalanan yang dapat mengganggu pengguna jalan lain.
◇ 33. Menjadikan kebanyakan waktu safar pada malam hari.
◇ 34. Memperbanyak zikir, doa dan bertaubat di waktu sahar (akhir malam).
◇ 35. Memanfaatkan waktu dengan banyak berzikir dan ketaatan.
◇ 36. Menjauhi segala kemaksiatan.
◇ 37. Memperbanyak doa ketika dalam perjalanan.
◇38. Segera kembali setalah urusan selesai.
◇ 39. Membawakan hadiah -oleh-oleh- untuk keluarga.
◇ 40. Hindari datang secara tiba-tiba pada malam hari kecuali dengan memberi kabar sebelumnya.
◇ 41. Memberi kabar keluarga tentang waktu kepulangannya (dengan hp, dll.)
◇ 42. Menyambut musafir ketika ia datang.
◇ 43. Merangkul (mu’aanaqoh) musafir yang baru datang.
◇ 44. Menyiapkan makanan bagi tamu yang berdatangan, khususnya bila safarnya lama.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan semoga dimudahkan untuk menerapkannya. Aamiin.

[Mausu’ah al-Adab al-Islamiyyah, Abdul Aziz an-Nada, hal. 425-448]

 

✅ Bagian Indonesia
🏠 ICC DAMMAM KSA
📅 [02/03/1437 H ]
==========================
🔹 WhatsApp & Telegram ICC DAMMAM KSA

♻Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi
📁Grup WA & TG Dakwah Islam
📩TG Bot : @DakwahIslam_Bot
🌐TG Channel : @DakwahIslam

Share yuk semoga saudara anda mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Senin, 21 Desember 2015

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KEEMPATBELAS/ TERAKHIR🔖

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KEEMPATBELAS/ TERAKHIR🔖

⚠ LARANGAN MEMBUKA TIRAI ORANG TANPA IZIN
DAN ADAB MINTA IZIN MASUK KIOS 💥

🔊 عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "أَيُّمَا رَجُلٍ كَشَفَ سِتْرًا فَأَدْخَلَ بَصَرَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْذَنَ لَهُ، فَقَدْ أَتَى حَدًّا لَا يَحِلُّ لَهُ أَنْ يَأْتِيَهُ، وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا فَقَأَ عَيْنَهُ، لَهُدِرَتْ، وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا مَرَّ عَلَى بَابٍ لَا سِتْرَ لَهُ فَرَأَى عَوْرَةَ أَهْلِهِ، فَلَا خَطِيئَةَ عَلَيْهِ إِنَّمَا الْخَطِيئَةُ عَلَى أَهْلِ الْبَيْتِ ".

🔊 "Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Barangsiapa menyingkap tirai (kain penghalang) lalu melepaskan pandangannya sebelum ia diizinkan, maka ia telah melanggar batas yang tidak halal baginya untuk melampauinya. Jika seorang laki-laki melempar matanya (orang yang mengintip) maka tidak ada diat (tebusan). Dan jika melewati sebuah pintu yang tiada bertirai, kemudian ia melihat aurat empunya maka tiada dosa baginya. Hanyasanya yang berdosa adalah si pemilik rumah."[HR. Ahmad dan at-tirmidzi, dishahihkan al-Albani dalam kitab at-Targhib]

📬 FAEDAH:

Dalam hadits diatas memberikan faedah kepada kita;

📎 1. Larangan membuka pintu atau tirai orang tanpa izin pemiliknya, karena hal tersebut akan menjerumuskan dirinya kepada perkara yang haram, yakni melihat aurat keluarga pemilik rumah yang tidak halal untuk dilihat.
📎 2. Jika seseorang membuka pintu atau tirai orang tanpa izin, kemudian pemilik rumah melempar sesuatu kepadanya yang mengakibatkan kebutaan, maka tidak ada diat (tebusan) bagi pemilik rumah.
📎 3. Perintah untuk senantiasa menutup rumah atau membuat tirai pintu atau jendela, agar orang yang lewat didepan rumahnya tidak melihat aurat keluarganya yang berada didalam rumah.
📎 4. Jika ada orang yang lewat melihat aurat pemilik rumah tanpa disengaja karena rumah tersebut terbuka atau tidak bertirai maka tidak ada dosa baginya. Yang berdosa dalam hal ini adalah pemilik rumah disebabkan membiarkan aurat keluarganya terbuka dengan sebab pintu rumahnya dibiarkan terbuka atau tanpa tirai.

🚪 Dengan ini berakhirlah silsilah adab minta izin ini. Semoga Allah memberikan banyak faedah kepada para pembaca dari apa yang kami berikan. Kami tutup silsilah ini dengan adab dari salaf kita ketika masuk kios atau toko;

عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: كَانَ ابْنُ عُمَرَ لَا يَسْتَأْذِنُ عَلَى بُيُوتِ السوق".

Dari Mujahid, ia berkata: “Ibnu Umar biasanya tidak meminta izin (jika ingin masuk) di kios-kios di pasar." [Diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab al-Adabul mufrad, dan dishahihkan al-Albani]

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: " كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَسْتَأْذِنُ فِي ظُلَّةِ الْبَزَّازِ".

Dari ‘Athaa’, ia berkata: “Ibnu Umar biasanya meminta izin (jika masuk) di tenda pedagang kain." [Diriwayatkan al-Bukhari dalam kitab al-Adabul mufrad, dan dishahihkan al-Albani]

🌹 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah bin Damiri al-Jawy, 15 Dzul Qa’dah 1436/ 30 Agustus 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
---------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KETIGABELAS🔖

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KETIGABELAS🔖

👀 MELEMPAR MATA YANG MENGINTIP TANPA IZIN 📌

🔊 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ أَبُو القَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ أَنَّ امْرَأً اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِعَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ، لَمْ يَكُنْ عَلَيْكَ جُنَاحٌ».

🔊 “Dari Abu Hurairah, dia berkata: Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Kalau saja seseorang mengintip di rumahmu, lalu engkau melemparnya dengan kerikil sampai mengenai matanya, maka tidak ada dosa padamu.” [HR. Al-Bukhari]

📬 FAEDAH:

🔊 Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Diambil dalil dengan hadits ini atas bolehnya melempar orang yang mengintip, dan kalau seandainya tidak bisa dilempar dengan sesuatu yang ringan maka boleh dengan sesuatu yang berat. Dan apabila dirinya (yang mengintip) atau sebagian anggota tubuhnya tertimpa (lemparan) maka tidak ada ganti rugi.” [Fathul Bari:12/255]

🔊 Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Para ulama berkata: hal ini dibawa kepada seseorang yang apabila dia mengintip rumah orang lain, kemudian dilempar dengan sebuah batu kerikil sehingga mengenai matanya, maka apakah boleh melemparnya langsung sebelum memberi peringatan dulu? Dalam hal ini ada dua sisi pandangan dari kelompok madzhab kami, namun pendapat yang paling benar dari keduanya adalah boleh berdasarkan zhahir hadits.” [Syarah an_nawawi:14/155]

عن أبو هريرة، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «مَنْ اطَّلَعَ فِي دَارِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ، فَفَقَئُوا عَيْنَهُ فَقَدْ هَدَرَتْ عَيْنُهُ» ".

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa seizin mereka, lalu mereka melempar matanya. Maka telah sia-sialah matanya (tidak ada jaminan qishah)” [HR. Abu Dawud, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani]

🔊 Ibnul Atsir rahimahullah berkata: “yaitu jika dilempar membutakan matanya, maka mata tersebut hilang dengan sia-sia, tidak ada qishah untuknya dan tidak pula diyat.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَفَقَئُوا عَيْنَهُ، فَلَا دِيَةَ لَهُ، وَلَا قِصَاصَ». صححه الألباني رحمه الله.

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengintip rumah suatu kaum tanpa seizin mereka, lalu mereka melempar matanya sehingga tercongkel. Maka tidak ada diyat baginya dan tidak pula qishah.” [HR. An-Nasaai, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani]

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

-----------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 14 Syawal 1436/ 29 Agustus 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
----------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KEDUABELAS🔖

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KEDUABELAS🔖

⛔ MINTA IZIN JIKA MASUK KE KAMAR IBU 👓

🔊 عَنْ عَلْقَمَةَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ (ابن مسعود)، قَالَ: أَسْتَأْذِنُ عَلَى أُمِّي؟ فَقَالَ: " مَا عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهَا تُحبّ أَنْ تَرَاهَا".

“Dari ‘Alqamah, dia berkata: Datang seorang laki-laki bertanya kepada Abdullah (Ibnu Mas’ud). Dia berkata, 'Haruskah saya meminta izin masuk kepada ibuku.' Dia menjawab, 'Tidak setiap waktunya engkau ingin melihatnya.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad. Berkata asy-Syaikh al-Albani: Sanadnya shahih]

🔊 عَنْ مُسْلِمِ بْنِ نُذير قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ حُذَيْفَةَ، فَقَالَ: أستأذِن عَلَى أُمِّي؟ فَقَالَ: " إِنْ لَمْ تَسْتَأْذِنْ عَلَيْهَا رَأَيْتَ مَا تَكْرَهُ".

“Dari Muslim bin Nudzair, dia berkata: Ada seorang laki-laki bertanya kepada Hudhaifah, 'Haruskah saya meminta izin masuk kepada ibuku?' Dia menjawab, 'Jika engkau tidak meminta izin kepadanya, engkau akan melihat apa yang tidak engkau suka melihatnya.” [Diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad, Berkata asy-Syaikh al-Albani: Sanadnya hasan]
-------------------

📬 FAEDAH:

Dalam hadits diatas memberikan faedah, bahwa kewajiban minta izin masuk rumah atau kamar seseorang bukanlah dikhususkan kepada orang-orang yang bukan mahramnya saja, tetapi hal ini disyariatkan pula kepada sesama mahram. Seseorang jika ingin masuk ke kamar ibu untuk suatu keperluan atau ingin menemuinya, tidak boleh baginya langsung masuk tanpa minta izin terlebih dahulu. Karena apabila dia langsung masuk tanpa izin, terkadang dia mendapatkan ibunya sedang tidur atau istirahat, sedang memakai pakaian khusus yang dia pakai di dalam kamarnya atau sedang tersingkap auratnya, sehingga hal ini bisa menjatuhkan dirinya kedalam perkara yang diharamkan, yaitu memandang aurat orang lain, meskipun dia mahramnya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«لَا يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ، وَلَا الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ »

“Tidaklah (boleh) seorang laki-laki melihat aurat laki-laki, dan perempuan melihat aurat perempuan” [HR. Muslim]

⚠ Tidak boleh seseorang melihat aurat orang lain, kecuali suami kepada istrinya atau sebaliknya dan tuan kepada budaknya. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

{وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)}

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” [QS. Al-Mu’minun:5-6]

Wajib bagi kita minta izin jika ingin masuk menemui ibu kita apabila dia sedang berada di dalam kamarnya.

عَنْ هُزَيْلِ بْنِ شُرَحْبِيلَ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ، يَقُولُ: «عَلَيْكُمْ أَنْ تَسْتَأْذِنُوا عَلَى أُمَّهَاتِكُمْ».

Dari Huzail bin Syurahbil, dia berkata: Aku mendengar Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wajib bagi kalian minta izin (masuk) kepada ibu-ibu kalian.” [Diriwayatkan ath-Thabrani, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani]

🌹 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 10 Syawal 1436/ 26 Juli 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
---------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

򺡓ILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KESEBELAS🔖

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KESEBELAS🔖

☀ MINTA IZIN DI TIGA WAKTU AURAT 🌒

🔊 عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ أَبِي مَالِكٍ الْقُرَظِيِّ، أَنَّهُ رَكِبَ إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُوَيْدٍ - أَخِي بَنِي حَارِثَةَ بْنِ الْحَارِثِ - يَسْأَلُهُ عَنِ الْعَوْرَاتِ الثَّلَاثِ، وَكَانَ يَعْمَلُ بِهِنَّ، فَقَالَ: مَا تُرِيدُ؟ فَقُلْتُ: أُرِيدُ أَنْ أَعْمَلَ بِهِنَّ، فَقَالَ: إِذَا وَضَعْتُ ثِيَابِي مِنَ الظَّهِيرَةِ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيَّ أَحَدٌ مِنْ أَهْلِي بَلَغَ الْحُلُمَ إِلَّا بِإِذْنِي، إِلَّا أَنْ أَدْعُوَهُ، فَذَلِكَ إِذْنُهُ. وَلَا إِذَا طَلَعَ الْفَجْرُ وَتَحَرَّكَ النَّاسُ حَتَّى تُصَلَّى الصَّلَاةُ. وَلَا إِذَا صَلَّيْتُ الْعِشَاءَ وَوَضَعْتُ ثِيَابِي حَتَّى أَنَامَ.

🔊 “Bahwa dia pernah berkendaran mengunjungi Abdullah bin Suwaid -saudara Bani Haritsah bin al-Harits- untuk bertanya mengenai tiga aurat -karena dia (Abdullah) sudah mempraktikkannya-. (Tsa'labah berkata,) 'Abdullah bertanya, 'Apa yang engkau inginkan (dengan tiga aurat itu)?' Aku jawab, 'Saya ingin mempraktikkannya.' Dia berkata, 'Jika saya menanggalkan pakaianku karena panasnya suhu tengah hari, maka tidak boleh masuk menemuiku seorangpun dari anggota keluargaku yang telah baligh, kecuali dengan izinku, atau karena aku panggil, maka itu termasuk izinku baginya. Begitu pula ketika fajar menyingsing dan orang-orang sudah mulai beraktifitas hingga shalat subuh dilaksanakan. Dan setelah saya shalat Isya' dan mengganti pakaian (dengan pakaian tidur) sampai aku tidur.” [HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad, dishahihkan asy-Syaikh al-Albani]
----------------------------------

📚 FAEDAH:

☀ Tiga waktu aurat ini telah dijelaskan dalam al-Quran dalam firman Allah Ta’ala;

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ}

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [QS. An-Nuur:58]

🌴 Sebab larangan masuk di tiga macam waktu tersebut karena biasanya di waktu-waktu itu badan banyak terbuka. Oleh sebab itu Allah melarang budak-budak dan anak-anak dibawah umur untuk masuk ke kamar tidur orang dewasa tanpa izin pada waktu-waktu tersebut.

🔊 Berkata asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah: “Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman agar (memerintahkan) budak-budak mereka dan anak-anak yang belum balig untuk minta izin. Sungguh Allah telah menyebutkan hikmahnya dan bahwa hal tersebut adalah tiga waktu aurat bagi yang mau minta izin; waktu tidur selepas shalat ‘Isya dan ketika bangun tidur sebelum shalat Subuh, pada waktu ini sering orang yang akan tidur malam mengenakan pakaian khusus (untuk tidur). Adapun tidur siang tatkala tidak sering (memakai baju tidur), terkadang memakai baju biasa, maka Allah Ta’ala kaitkan hal ini dengan firman-Nya;

{وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُم مِّنَ الظَّهِيرَةِ}

“ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari”

yaitu untuk Qailulah (istirahat) ditengah hari.

Pada tiga keadaan ini, para budak-budak dan anak-anak kecil (hukumnya) seperti selain mereka, yaitu tidak dibolehkan masuk kecuali dengan izin. Adapun selain tiga waktu tersebut maka Allah berfirman;

{لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ}

“Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka
selain dari (tiga waktu) itu.”

Yakni tidak seperti selain mereka senantiasa harus minta izn, karena mereka (budak dan anak-anak) jika harus senantiasa minta izin setiap waktu, maka hal ini akan memberatkan. Oleh karena itu Allah berfirman;

{طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ}

“Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain).”

Yakni mereka sering mondar-mandir di sekeliling mereka karena aktifitas dan kebutuhan mereka.” [Tafsir as-Sa’di, hal. 573]

🔊 Berkata Syaraful Haq Abaadi dalam kitabnya “Aunul Ma’bud [14/77]”: Dikhususkan hanya tiga waktu ini saja, karena waktu tersebut adalah waktu untuk bersendirian dan melepas pakaian. Terkadang tampak padanya bagian yang tidak dia sukai untuk dilihat oleh siapapun, baik oleh budaknya maupun anak-anaknya. Oleh sebab itu, mereka diperintahkan untuk minta izin di waktu-waktu tersebut. Adapun selain mereka maka (diwajibkan) minta izin setiap saat.

🚪Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 6 Syaban 1436/ 24 Mei 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
--------------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KESEPULUH🔖

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KESEPULUH🔖

👣BOLEHNYA TAMU MENGURUNGKAN DIRI UNTUK MASUK RUMAH🏡

🔊 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُدْعَانَ قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ فَاسْتَأْذَنَ عَلَى أَهْلِ بَيْتٍ فَقِيلَ: ادْخُلْ بِسَلَامٍ فَأَبَى أَنْ يدخل عليهم.

🔊 Saya pernah bersama Abdullah bin Umar. Dia meminta izin masuk kepada penghuni suatu rumah. Penghuni rumah itu menjawab, "Masuklah dengan mengucapkan salam." (Mendengar jawaban itu,) Ibnu Umar tidak jadi masuk ke rumah mereka. [HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Adabul Mufrad, asy-Syaikh al-Albani berkata: Sanadnya Shahih]
--------------------------------

📚 FAEDAH:

Telah lewat dalam pembahasan yang lalu, bahwa disyariatkan mengucapkan salam sebelum  masuk ke rumah, baik rumah sendiri maupun orang lain. Demikian pula diperbolehkan bagi tamu mengetuk pintu apabila memang ucapan salamnya tidak terdengar oleh pemilik rumah.

Dalam hadits ini, terdapat faedah tambahan dari apa yang telah berlalu;
📎 1. Bolehnya bagi tamu mengurungkan diri untuk bertamu jika ada maslahatnya, meskipun sudah diizinkan masuk.
📎 2. Ibnu Umar adalah sahabat yang mulia yang terkenal dengan semangatnya dalam mengaplikasikan sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam dirinya dalam kehidupan sehari-harinya. Tidak mungkin tersamarkan oleh beliau syariat memberi salam sebelum masuk rumah orang. Oleh karena itu dalam hadist ini, beliau membatalkan untuk masuk ke rumah tersebut karena beberapa kemungkinan;
🔸a. Barangkali alasan beliau karena ada maslahat secara syar’i.
🔸b. Atau barangkali beliau memandang pemilik rumah tersebut telah mengejek beliau atau mengejek syariat salam. Karena kemungkinan besar beliau telah memberi salam, namun dari sikap pemilik rumah tersebut seolah-olah menuduh Ibnu ‘Umar masuk rumah tanpa memberi salam.

🔊 Berkata asy-Syaikh al-Albani rahimahullah: “Yang demikian itu, karena tidak mungkin sekaliber shahabat Ibnu ‘Umar tidak mengetahui sunnahnya minta izin dengan memberi salam, atas dasar ini beliau pasti sudah memberi salam ketika minta izin. Oleh karena itu, ketika dikatakan kepada beliau, ‘Masuklah dengan mengucapkan salam’ maka tindakan beliau tersebut menjadi tidak berguna, atau bisa jadi ucapan sang pemilik rumah tersebut (dianggap oleh beliau sebagai) hinaan, oleh karenanya beliau mengurungkan diri untuk masuk. Penjelasan kami ini didukung oleh riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf beliau (8/647) dengan sanad yang lain dan berstatus shahih. Lafazhnya adalah sebagai berikut, "Dari Abu Majlaz, dia berkata, "Apabila Ibnu Umar meminta izin, kemudian dijawab dengan perkataan, "Masuklah dengan mengucapkan salam", maka beliau segera kembali dan berkata, "Saya tidak tahu apakah saya harus masuk dengan salam ataukah tanpa salam (padahal saya telah mengucapkan salam ketika meminta izin tadi).

Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

-------------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 14 Rajab 1436/ 3 Mei 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
-------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KESEMBILAN🔖

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KESEMBILAN🔖

🏡 Apabila Tamu Ditanya, Siapakah Kamu? Maka Janganlah Menjawab, Saya, Saya! ⛔

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، يَقُولُ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي دَيْنٍ كَانَ عَلَى أَبِي، فَدَقَقْتُ البَابَ، فَقَالَ: «مَنْ ذَا» فَقُلْتُ: أَنَا، فَقَالَ: «أَنَا أَنَا» كَأَنَّهُ كَرِهَهَا. رواه البخاري ومسلم.

🔊 “Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata; "Aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena hutang ayahku, lalu aku mengetuk pintu rumah beliau, beliau bertanya;: "Siapakah itu?" aku menjawab; "Saya." Beliau bersabda: "Saya, saya!." Seolah-olah beliau membencinya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

📚 FAEDAH:

🌴 Sepantasnya bagi orang yang bertamu apabila ditanya oleh tuan rumah, Siapakah kamu? Maka jawablah dengan menyebutkan namanya. Sungguh kami dapatkan dari sebagian kita, apabila bertamu dan ditanya oleh pemilik rumah dari balik pintu, Siapakah kamu? maka dia menjawab; Saya pak! Saya pak!

⚠ Ini merupakan adab yang tidak baik, karena dia tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan pemilik rumah dan juga dengan jawaban itu, pemilik rumah masih belum bisa mengenal siapakah yang bertamu. Seharusnya ketika ditanya maka jawablah dengan menyebut nama atau kunyah jika dia dikenal dengan kunyahnya, sebagaimana hal ini ditunjukan dalam hadits Ummu Hani’ binti Abu Thalib radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

"ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ تَسْتُرُهُ فَقَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» فَقُلْتُ: أَنَا أُمُّ هَانِئٍ"

"Aku pergi menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saat pembukaan Kota Makkah, lalu aku dapati beliau sedang mandi dan Fatimah menutupinya. Beliau lalu bertanya: "Siapa ini?" Aku menjawab, "Ummu Hani'." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

🔊 Berkata al-Imam an-Nawawi rahimahullah: “Berkata para ulama, apabila seorang minta izin (masuk), kemudian dikatakan padanya; Siapakah kamu? atau Siapakah itu? maka tidak disukai jika dia menjawab, ‘Saya’! dengan dasar hadits ini. Dan juga (dengan jawaban tersebut) tidak menghasilkan faedah (bagi pemilik rumah), bahkan kesamaran masih tetap ada (padanya). Akan tetapi hendaknya dia menyebutkan, ‘Saya Fulan, yaitu dengan menyebut namanya.”  [Syarah an-Nawawi:14/135-136] 

🔊 Berkata al-Imam asy-Syinqithi rahimahullah: “Ketahuilah, bahwa apabila seorang minta izin (masuk), kemudian pemilik rumah bertanya, Siapakah kamu? maka tidak boleh dia menjawab, ‘Saya’, akan tetapi (hendaknya) dia menyebutkan nama dan kunyahnya jika memang dia terkenal dengan itu, karena lafzah ‘Saya’ digunakan oleh setiap orang untuk dirinya, sehingga dengan lafazh itu pemilik rumah tetap tidak dapat mengetahui siapakah yang minta izin (bertamu).” [Tafsir Adwaul Bayan:5/499]

🚪 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 23 Jumadal Akhir 1436/ 12 April 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
-------------------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KEDELAPAN🔖

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KEDELAPAN🔖

🏠Barangsiapa Masuk Rumah Orang, Tetapi lupa Minta Izin,
Maka Hendaknya dia keluar dan Minta Izin🔑

🔊 عنْ كَلَدَةَ بْنِ حَنْبَلٍ، أَخْبَرَهُ أَنَّ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ بَعَثَهُ بِلَبَنٍ وَلِبَأٍ وَضَغَابِيسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَعْلَى الوَادِي، قَالَ: فَدَخَلْتُ عَلَيْهِ وَلَمْ أُسَلِّمْ وَلَمْ أَسْتَأْذِنْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " ارْجِعْ فَقُلْ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ "؟ وَذَلِكَ بَعْدَ مَا أَسْلَمَ صَفْوَانُ.

🔊 Dari Kaladah bin Hambal telah mengabarkan kepadanya bahwa Sufwan bin Umayyah mengutusnya untuk membawa susu, susu yang baru di perah dan mentimun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tengah berada di atas lembah, " Kaldah berkata; "Kemudian aku menemui beliau tanpa mengucapkan salam dan tanpa izin, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kembalilah dan ucapkan: Assalaamu'alaikum, apakah aku boleh masuk?" peristiwa itu terjadi setelah Shufwan masuk Islam." [HR. At-Tirmidzi, dishahihkan al-‘Allamah al-Albani]

📚 FAEDAH:

📎 1. Syariat Islam yang Agung, mengajarkan umatnya untuk memperhatikan adab-adab minta izin.
📎 2. Hendaknya seorang yang bertamu, dia masuk dalam keadaan terpuji, yaitu masuk minta izin dan memberi salam.
📎 3. Apabila tamu masuk kedalam rumah orang tanpa minta izin dan memberi salam terlebih dahulu, maka hendaknya segera keluar dari rumah tersebut, kemudian minta izin dan memberi salam.
📎 4. Larangan bagi orang yang bertamu masuk ke rumah orang tanpa izin.

🌹 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

-------------------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 9 Jumadal Akhir 1436/ 29 Maret 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
-------------------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🔖PERTEMUAN KETUJUH🔖

🚪SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🔖PERTEMUAN KETUJUH🔖

🏠 Jika Seseorang Meminta Izin Masuk, Lalu Dijawab, "Tunggu Sampai Saya Keluar", Maka Dimana Dia Seharusnya Duduk?💺

🔊 عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مُعَاوِيَةَ بْنِ حُدَيْجٍ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَدِمْتُ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَاسْتَأْذَنْتُ عَلَيْهِ، فَقَالُوا لِي: مَكَانَكَ حَتَّى يَخْرُجَ إِلَيْكَ، فَقَعَدْتُ قَرِيبًا مِنْ بَابِهِ، قَالَ: فَخَرَجَ إِلَيَّ فَدَعَا بِمَاءٍ فَتَوَضَّأَ، ثُمَّ مَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ، فَقَالَ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، أَمِنَ الْبَوْلِ هَذَا؟ قَالَ: مِنَ الْبَوْلِ، أَوْ مِنْ غَيْرِهِ.  رواه البخاري في الأدب المفرد. قال الألباني رحمه الله في صحيح الأدب المفرد : حسن الأسناد.

🔊 Dari Abdurahman bin Mu’awiyah bin Hudaij, dari ayahnya berkata: “Saya pernah mendatangi Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, kemudian saya meminta izin masuk kepadanya. Orang-orang di sana berkata kepadaku, 'Duduklah di tempatmu sampai dia keluar menemuimu.' Maka aku pun duduk di dekat pintunya. Kemudian Umar radliallahu 'anhu keluar menemuiku. Dia lalu meminta dibawakan air untuk berwudhu. Kemudian beliau mengusap kedua sepatunya. Aku berkata, 'Wahai Amirul Mukminin, apakah (wudhu yang kau lakukan ini) karena kencing?" Dia menjawab, “Karena kencing dan yang lainnya.” [HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad. Dihasankan al-‘Allamah al-Albani]

📚 FAEDAH:

📎 1. Apabila kita telah memberi salam dan mengetuk pintu, maka hendaknya kita menunggu sebentar sampai pemilik rumah keluar.
📎 2. Hendaknya dia duduk tidak jauh dari pintu ketika menunggu pemilik rumah keluar, namun tidak boleh duduknya menghadap ke arah pintu sebagaimana telah lewat penjelasannya.
📎 3. Apabila pemilik rumah tetap belum keluar dari rumahnya, padahal dia telah mengetuk pintu dan memberi salam tiga kali serta menuggunya, maka hendaknya dia pergi dan jangan mengetuk pintu dan memberi salam lagi, hal ini sebagaimana yang ditunjukan dalam hadits Abul ‘Aliyah, ia berkata:

أَتَيْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ فَسَلَّمْتُ فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي ثُمَّ سَلَّمْتُ فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي ثُمَّ سَلَّمْتُ الثَّالِثَةَ. فَرَفَعْتُ صَوْتِي وَقُلْتُ: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الدَّارِ فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي فَتَنَحَّيْتُ نَاحِيَةً فَقَعَدْتُ فَخَرَجَ إِلَيَّ غُلَامٌ فَقَالَ: ادْخُلْ فَدَخَلْتُ فَقَالَ لِي أَبُو سَعِيدٍ: أَمَا إِنَّكَ لَوْ زِدْتَ لَمْ يؤذن لك فسألته عن الأوعية فلم أسله عَنْ شَيْءٍ إِلَّا قَالَ: حَرَامٌ حَتَّى سَأَلْتُهُ عن الجف؟ فقال: حرام. فقال محمد : يُتَّخذ على رأسه إِدْمٌ ، فَيُوكَأُ.

Saya pernah mendatangi (rumah) Abu Sa'id al-Khudri. Aku memberi salam, tetapi tidak diberi izin. Kemudian aku memberi salam lagi, tetapi tidak juga diberi izin. Lalu aku memberi salam yang ketiga kalinya dengan mengangkat suaraku sambil berkata, 'Assalamu alaikum, wahai penghuni rumah.' Tetapi tetap tidak diberi izin. Akhirnya, saya pergi ke salah satu pojok rumah lalu duduk di situ. Kemudian keluar seorang budak kecil dan berkata, 'Masuklah.' Maka saya pun masuk. Abu Sa'id berkata kepadaku, 'Kalau saja tadi engkau salam sekali lagi, pastilah engkau tidak akan diizinkan masuk.' Lalu aku bertanya kepadanya tentang bejana-bejana (tempat membuat khamer). Tidak ada satupun pertanyaanku melainkan dia jawab, 'Haram.' Hingga aku bertanya kepadanya tentang juf (bejana dari kulit yang tidak diikat). Dia menjawab, 'Haram.'" Muhammad -bin Sirin- (yang meriwayatkan dari Abu al-'Aliyah) berkata, 'Di bagian atasnya diikat dengan tali dari kulit sehingga tertutup. [HR. Al-Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad. Dishahihkan al-‘Allamah al-Albani]

🌴 Waffaqallahul jami’ likulli khairin.

----------------------------------
✒ Disusun oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri al-Jawy, 9 Jumadal Akhir 1436/ 29 Maret 2015_di kota Ambon Manise.

📥 Silahkan kunjungi blog kami untuk mendapatkan artikel kami yang lainnya dan mengunduh PDF-nya serta aplikasi android Forum KIS di:
www.pelajaranforumkis.com atau www.pelajarankis.blogspot.com
-----------------------------------

📚 WA. FORUM KIS 📚

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN: 🌴 PERTEMUAN KEENAM 🌴

🚪 SILSILAH ADAB MINTA IZIN:

🌴 PERTEMUAN KEENAM 🌴

🏠 LARANGAN MENGHADAP KE PINTU SETELAH MENGETUKNYA 🚪

🔊 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلِ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ، وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ، أَوِ الْأَيْسَرِ، وَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ» وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ.

🔊 “Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, "Jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendatangi pintu suatu kaum, Beliau tidak berdiri di depan pintu, tetapi Beliau berada di sisi sebelah kanan atau kirinya seraya mengucapkan: "Assalamu ‘alaikum, Assalamu ‘alaikum." Sebab saat itu rumah-rumah belum ada yang mengunakan satir.” [HR. Abu Dawud, dishahihkan al-‘Allamah al-Albani]

📚 FAEDAH:

🌻 Pada pertemuan-pertemuan yang telah lalu, kita telah mempelajari beberapa adab minta izin;
📎 1. Menjaga pandangan, yang mana ketika kita akan bertamu tidak boleh bagi kita melongok lewat kaca atau jendela pemilik rumah.
📎 2. Minta izin dilakukan sebanyak tiga kali, jika tidak ada jawaban maka hendaknya pergi.
📎 3. Bentuk minta izinnya adalah dengan mengucapkan salam ketika ingin bertamu atau masuk ke rumah, baik rumah tersebut berpenghuni maupun tidak.
📎 4. Boleh bagi kita mengetuk pintu jika memang ucapan salam kita tidak terdengar oleh pemilik rumah.

👓 Adapun pembahasan kita kali ini adalah apa yang harus kita lakukan setelah kita mengetuk pintu?

🔑 Dalam hadits Abdullah bin Busr diatas menjelaskan bahwa adab kita setelah mengetuk pintu, janganlah kita menghadap ke pintu ketika menunggu pemilik rumah keluar, tetapi hendaknya dia menghadap atau berdiri disamping kanan pintu atau kirinya, hal ini agar mata kita tidak jatuh kepada perkara-perkara yang tidak diinginkan, seperti melihat keluarga pemilik rumah atau perkara yang lain yang mana pemilik rumah tidak suka jika orang lain melihatnya.

🔊 Berkata Syaraful Haq dalam kitabmya ‘Aunul Ma’bud 14/60: “Beliau tidak berdiri di depan pintu” yaitu tidak berdiri menghadap ke pintu, hal ini agar pandangan kita (ketika pintu dibuka) tidak melihat kepada keluarga pemilik rumah (yang berda didalam). “tetapi beliau berada di sisi sebelah kanan atau kirinya” yaitu akan tetapi Beliau memiringkan (badan) menghadap kearah kanan pintu atau ke kiri.”

📓 Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam kitab ‘Al-Adabul Mufrad no. 1078;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ صَاحِبُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: [أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ] " كَانَ إِذَا أَتَى بَابًا يُرِيدُ أَنْ يَسْتَأْذِنَ لَمْ يَسْتَقْبِلْهُ؛ جَاءَ يَمِينًا وَشِمَالًا؛ فَإِنْ أُذن لَهُ وَإِلَّا انْصَرَفَ".

“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila beliau mendatangi sebuah pintu untuk meminta izin (masuk kepada tuan rumah), beliau tidak menghadap ke arah pintu tetapi beliau berada di sebelah kanan atau sebelah kiri. Jika diizinkan, (beliau masuk). Jika tidak, maka Beliau pergi.” [Dihasankan al-‘Allamah al-Albani]

عَن عبد الله بن بسر رَضِي الله عَنهُ قَالَ سَمِعت رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم يَقُول لَا تَأْتُوا الْبيُوت من أَبْوَابهَا وَلَكِن ائتوها من جوانبها فَاسْتَأْذنُوا فَإِن أذن لكم فادخلوا وَإِلَّا فَارْجِعُوا."

“Dari Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian mendatangi rumah-rumah dari arah depan pintunya, namun datangilah dari arah samping pintu lalu mintalah izin. Apabila diizinkan untuk kalian, maka masuklah, dan bila tidak (diberi izin), maka pulanglah.” [HR. Ath-Thabrani, dihasankan al-‘Allamah al-Albani]

💎 Faedah yang lainnya adalah hendaknya kita memasang korden pintu jika memang ketika pintu dibuka, orang yang berada diluar rumah bisa melihat keluarga kita yang berada didalam rumah.

🔖 Demikianlah adab yang indah dan terpuji yang dicontohkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam yang sudah sepatutnya untuk kita teladan